Batalion Sheikh Mansur memandang konflik tersebut sebagai kelanjutan dari perang di Chechnya, di samping kesempatan untuk mendukung bangsa dan orang-orang yang memiliki musuh bersama. Kelompok tersebut diketahui pernah ikut berperang dalam Pertempuran Mariupol, namun kembali ke Kiev tidak lama kemudian.
Dari September hingga November 2022, kelompok tersebut melawan pasukan Rusia di garis depan Zaporizhzhia. Grup tersebut juga berpartisipasi dalam Pertempuran Soledar dan tampaknya masih aktif di Bakhmut.
Analis intelijen dari London Politica, Olivia Gibson mencatat, setidaknya ada tiga tokoh kunci Batalion Sheikh Mansur yang berpartisipasi dalam pertempuran di Ukraina saat ini. Mereka adalah Muslim Cheberloyevsky selaku komandan batalion, Mansur (kebetulan bernama sama dengan kelompoknya—red) selaku komandan tempur, dan Islam Belokiev selaku juru bicara organisasi militer itu.
Adapun taktik pertempuran yang mereka terapkan di Ukraina adalah perang gerilya asimetris. Menurut Gibson, taktik semacam ini cocok digunakan untuk pertempuran perkotaan. Gaya perang semacam ini diasah oleh para anggota Batalion Sheikh Mansur selama Perang Chechnya dari dekade 1990-an hingga 2009.
Seperti disinggung sebelumnya, Batalion Sheikh Mansur telah hadir di Ukraina sejak 2014, ketika perang antara Moskow dan Kiev dimulai. Menurut komandan tempur batalion tersebut, Mansur, dia dan tentaranya juga diundang oleh pasukan Ukraina untuk berperang melawan Rusia sejak tahun lalu.