“Mereka ingin Presiden Trump membuat kesalahan paling serius dalam hidupnya dan menempatkan dirinya secara militer melawan Venezuela. Itu akan menjadi akhir politik bagi kepemimpinannya dan namanya. Dia sedang ditekan dan diprovokasi,” ujar Maduro.
Meski demikian, Maduro menolak menyebut siapa pihak yang dimaksud. Dia hanya mengatakan ada “musuh-musuh” di sekitar Trump yang tidak menginginkan stabilitas politik maupun hubungan yang lebih baik antara kedua negara.
Antara Diplomasi dan Perang
Menariknya, Maduro tetap membuka ruang dialog dengan AS. Dia mengaku siap berdiskusi untuk menemukan titik temu yang dapat menurunkan ketegangan. Namun di saat yang sama, dia menegaskan Venezuela tidak akan tinggal diam jika Washington memilih jalur militer.
Menurut Maduro, selama 16 pekan terakhir, AS terus membayangi wilayah Venezuela dan bahkan menyerang sekitar 20 kapal yang mereka tuduh membawa narkoba. Kondisi tersebut membuat angkatan bersenjata Venezuela dalam posisi siaga tinggi.
“Ancaman dan agresi ini justru membangkitkan Angkatan Bersenjata Nasional Bolivarian. Milisi semakin terlatih, dan masyarakat sipil juga ikut bersiap membantu militer,” katanya.