Supermarket diperbolehkan buka sementara toko lebih kecil harus tutup. Kondisi ini memicu kekhawatiran supermarket akan memonopoli penjualan miras.
Menteri Dalam Negeri Suleyman Soylu menepis anggapan larangan membeli miras bertujuan untuk membatasi hak warga.
Namun penjelasan itu tidak cukup meyakinkan kelompok sekuler, beberapa juga berdalih larangan itu tidak ada hubungannya dengan pandemi Covid-19.
"Ini mengganggu gaya hidup sekuler dan merupakan intervensi dalam budaya makanan dan minuman," kata Ozgur Aybas, kepala asosiasi toko minuman keras, dikutip dari Reuters.
Mayoritas warga Turki merupakan penganut Islam yang taat, sementara kelompok sekuler cenderung menentang Partai AK yang dipimpin Erdogan.
Turki bukan negara pertama yang melarang miras di masa panemi Covid-19. Sebelumnya Afrika Selatan juga melarang penjualan miras selama dua periode terbatas dengan alasan mengurangi beban rumah sakit. Rumah sakit tak seharusnya mengurusi pasien terkait dampak miras sementara pasien Covid membutuhkan perhatian lebih.