“Ini adalah langkah berbahaya, karena menghilangkan seluruh ruang keamanan, zona penyangga yang diberikan kekuatan besar satu sama lain sebagai harga untuk keamanan mereka,” ujar Juvin.
“NATO adalah ancaman nomor satu bagi perdamaian di seluruh dunia karena mengepung Rusia dan bersiap-siap untuk mengepung China. Dan Uni Eropa bersujud kepada NATO, yang, pada kenyataannya, melayani kepentingan Anglo-Amerika, yang secara radikal asing bagi Eropa,” ucapnya.
Menurut dia, situasi ini berangkat dari ketidaktahuan para elite pemerintah Eropa serta para pejabat yang menduduki pucuk pimpinan lembaga-lembaga di benua itu.
Dia lantas membandingkan situasi keamanan saat ini dengan Krisis Rudal Kuba 1962. Kala itu, Amerika Serikat mengerahkan rudal jarak menengah di Turki. Tindakan Washington DC itu kemudian dibalas Uni Soviet dengan mengerahkan militernya di Kuba.
Namun, perang terbuka dapat dihindarkan pada waktu itu berkat diplomasi. Kedua belah pihak (AS dan Uni Soviet) pun akhirnya mengakui keprihatinan yang sama di bidang keamanan.