Dia juga menegaskan, masyarakat Maluku di Belanda harus memiliki suara yang signifikan dalam menentukan langkah selanjutnya seraya mencatat pentingnya menyampaikan permintaan maaf selagi perwakilan generasi pertama Maluku masih hidup.
Jetten mengakui perlakuan terhadap warga Maluku sebagai ketidakadilan sejarah. Selain itu enderitaan yang mereka alami belum cukup diakui.
"Rasa sakit ini juga ditanggung oleh generasi-generasi berikutnya," ujarnya.
Jetten menggambarkan Monumen Komunitas Maluku Nasional yang baru diresmikan lebih penting dari segalanya. Monumen itu merupakan bentuk penghormatan terhadap ribuan tentara dan keluarga mereka yang yakni kedatangan ke Belanda hanya sementara dan berharap segera pulang ke kampung halaman.
Setelah berakhirnya penjajahan Belanda di Indonesia pada 1950, sekitar 12.500 tentara Maluku yang bertugas di Angkatan Darat Kerajaan Hindia Belanda (KNIL), bersama keluarga mereka, dibawa ke Belanda dengan alasan hanya untuk sementara.
Mereka kemudian ditempatkan di bekas kamp konsentrasi Nazi.