Penandatanganan Perjanjian Damai Bersejarah Taliban dan AS di Depan Mata

Anton Suhartono
Taliban, AS, dan pasukan keamanan Afghanistan mulai menerapkan pengurangan kekerasan sejak 22 Februari selama sepekan (Foto: AFP)

Pemerintahan Donald Trump bersedia menarik 12.000 sampai 13.000 pasukan yang tersisa asal Taliban memberi jaminan keamanan di negara yang dipimpin Presiden Ashraf Ghani itu.

Sementara itu pengurangan kekerasan ini menunjukkan bahwa para pemimpin Taliban dapat mengendalikan pasukan mereka. Taliban juga sudah menunjukkan iktikad baik sebelum kesepakatan.

Sebenarnya dokumen perdamaian nyaris diteken Trump pada September 2019 namun dibatalkan pada saat-saat terakhir. Penyebabnya, Trump murka karena tentaranya tewas akibat kekerasan.

Sementara itu para pejabat Afghanistan mengatakan, perjanjian damai AS-Taliban bisa saja diteken pada 29 Februari di Doha, Qatar, jika pengurangan kekerasan selama sepekan ini berjalan sesuai rencana.

Namun para analis meragukan gencatan senjata akan berjalan sukses. Mereka menilai kompleksnya konflik di Afghanistan dengan berbabagai macan kepentingan berisiko membuat rencana perdamaian gagal kapan saja.

Asumsi terburuk, kelompok militan justru memanfaatkan waktu gencatan senjata ini untuk berkonsolidasi dan menguatkan kembali pasukan.

Editor : Anton Suhartono
Artikel Terkait
2 jam lalu

Trump Murka Houthi Serang 2 Kapal Tanker Saudi, Ancam Gempur Iran Habis-habisan

3 jam lalu

Blak-blakan, Walkot New York Mamdani Sebut AS Bertanggung Jawab atas Genosida Gaza

4 jam lalu

Israel Gerah AS dan Arab Saudi Teken Perjanjian Nuklir

7 jam lalu

Perang Semakin Sengit, Inggris Mulai Tarik Staf Kedubes dari Iran

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal