Ketua komisi, Srinivasan Muralidhar, menyebut bukti yang dikumpulkan menunjukkan adanya pola penyerangan terhadap anak-anak Palestina, termasuk pembunuhan, penahanan, hingga perlakuan buruk di fasilitas penahanan. Ia juga menegaskan dampak perang terhadap anak-anak tidak akan hilang meski konflik berakhir.
“Kerusakan pada sistem kesehatan, pendidikan, dan perkembangan mereka tidak dapat dipulihkan,” kata Muralidhar dalam laporan tersebut.
Komisi juga menyebut operasi militer Israel terus berlangsung dengan skala intens dan sistematis sejak tahun sebelumnya, menyebabkan kematian, luka, dan trauma berat pada anak-anak Palestina yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Selain itu, laporan turut menyoroti bahwa bahkan setelah gencatan senjata pada Oktober 2025, korban jiwa tetap berjatuhan dan anak-anak masih menjadi kelompok yang paling rentan terdampak.
Data Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza mencatat, sejak gencatan senjata berlaku pada 10 Oktober 2025, serangan Israel telah menewaskan 1.021 warga Palestina dan melukai 3.249 lainnya.
Secara keseluruhan sejak Oktober 2023, serangan di Gaza telah menewaskan 73.032 orang, melukai lebih dari 173.300 orang, serta menghancurkan sekitar 90 persen infrastruktur di wilayah tersebut.