Selama pemeriksaan polisi, siswa tersebut mengakui perbuatannya di dalam kelas.
Dia mengaku tidak mengenal guru tersebut serta membantah adanya motif seksual. Anehnya, siswa tersebut mengeklaim bahwa dia memasuki ruang kelas saat mencari toilet.
Persatuan Guru Jeju menyerukan penyelidikan menyeluruh.
Akibat perlakuan itu, korban tidak bisa kembali ke kelas karena trauma dan mengalami tekanan emosional parah.
Polisi masih mendalami, apakah tindakan tersebut bermotif seksual serta mempertimbangkan untuk meminta surat perintah penggeledahan terhadap ponsel , komputer, dan perangkat digital siswa tersebut.