Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran Abbas Araghchi mengecam upaya negara Barat untuk memulihkan sanksi internasional terhadap negaranya seraya memperingatkan hal itu bisa memicu preseden berbahaya serta merusak kepercayaan terhadap seluruh tatanan global.
Araghchi menegaskan Iran telah berkorban banyak karena ditipu berdasarkan hak-haknya yang diakui dalam perjanjian. Meski dilukai, Iran tetap berusaha mematuhi perjanjian, bahkan setelah AS menarik diri dari kesepakatan JCPOA pada 2018 disusul dengan memberlakukan kembali sanksi.
"Penolakan Amerika Serikat yang terus-menerus terhadap setiap inisiatif diplomatik telah membuktikan bahwa negosiasi dengan Washington hanya akan menemui jalan buntu," ujar Araghchi.
Dia juga menuduh E3 memilih konfrontasi, ketimbang dialog.
Menurut Araghchi, upaya AS dan E3 untuk menerapkan kembali sanksi terahadap Iran keliru,, sembrono, dan batal demi hukum.
Dia menegaskan Iran tidak akan pernah merespons ancaman atau tekanan. Sebaliknya, Dewan Keamanan PBB berisiko kehilangan kredibilitas dan otoritasnya jika setuju untuk kembali sanski tersebut karena sama saja melakukan tindakan ilegal dengan kekerasan.