Bennet yang umurnya relatif masih muda, yakni 49 tahun, berhaluan kanan dan memiliki impian untuk mencaplok sebagian besar wilayah Tepi Barat milik Palestina. Sementara, Partai Yesh Atid yang dipimpin Lapid berhaluan moderat dan mengusung gagasan yang lebih liberal dan sekular.
Selain ideologi kanan dan moderat, koalisi yang dibangun Lapid kini juga diisi oleh kelompok Arab Islam yang diwakili oleh Partai Raam yang diketuai Mansour Abbas. Ideologi boleh berbeda, namun Lapid, Bennett, dan Abbas ternyata bisa duduk di satu meja. Mereka dipertemukan oleh satu tujuan: menggulingkan Netanyahu dari kekuasaan.
Tak hanya tersudutkan secara politik, Netanyahu kini juga tengah bekerja keras menghadapi tuntutan hukum di pengadilan. Dia harus melawan tuduhan korupsi yang selalu dia bantah. Beban itu pula yang bakal ditanggung Netanyahu ketika menjadi pemimpin oposisi berikutnya.
Walapun begitu, Netanyahu yang sudah berumur 71 tahun itu, tampaknya siap untuk menerkam koalisi pemerintahan baru yang dibentuk partai-partai sayap kanan, moderat, dan Arab Islam itu. Komposisi aliansi Lapid-Bennett yang begitu beragam, dapat membuat koalisi tersebut sangat tidak stabil di negara yang terbelah-belah secara politik itu.
Dengan kata lain, tidak ada seorang pun di Israel yang dapat mengesampingkan peluang kembalinya kekuasaan politik Netanyahu dalam beberapa tahun mendatang.