“Tidak masuk akal seorang kepala negara tetap dijatuhi sanksi, sementara kami menjalin hubungan diplomatik dengan banyak negara yang terlibat dalam proses global," katanya, menegaskan.
Menurut Sharaa, keputusan tersebut menjadi simbol kembalinya kepercayaan dunia terhadap peran Suriah dalam percaturan internasional. Dia menilai, konsensus yang tercipta di Dewan Keamanan menunjukkan adanya kemauan baru untuk membangun jembatan kerja sama, bukan memperdalam perpecahan.
“Suriah berhasil membangun konsensus di antara negara-negara yang selama ini sulit sepakat dalam banyak isu global. Ini langkah positif yang bisa menjadi awal dari penyelesaian banyak konflik di dunia,” tuturnya.
Sharaa juga menyampaikan apresiasi kepada sejumlah negara Timur Tengah yang dinilainya berperan penting dalam upaya diplomatik hingga sanksi itu akhirnya dicabut.
Selain itu, Sharaa mengungkapkan rencananya untuk melakukan kunjungan resmi ke Gedung Putih pada Senin mendatang guna membahas masa depan hubungan Suriah-Amerika Serikat bersama Presiden Donald Trump.
“Kami siap membuka lembaran baru,” ucapnya.
Kehadiran Sharaa di Belem, Brasil, juga menjadi catatan penting. Ini merupakan pertama kalinya seorang presiden Suriah berpartisipasi dalam konferensi iklim PBB sejak ajang itu dimulai pada 1995, menandakan kembalinya Damaskus ke forum global setelah bertahun-tahun diisolasi akibat konflik dan sanksi internasional.