Pada Sabtu polisi menemukan setidaknya tiga bom yang tidak meledak. Bom terbuat dari cat semprot dan pipa logam yang dipasangkan timer.
Kissana mengatakan, ledakan itu tampaknya bertujuan menyebabkan kegelisian dan ketakutan di masyarakat ketimbang mengincar korban jiwa atau luka. Sejauh ini polisi belum menemukan keterkaitan antara penggerebekan dan ledakan tersebut.
Belum ada pihak yang tanggung jawab dalam serangan itu. Kelompok pemberontak di wilayah itu, Barisan Revolusi Nasional, tidak memberikan komentar apa pun.
Deep South Watch menyatakan lebih dari 7.300 orang tewas sejak 2004 dalam pemberontakan separatis di Yala, Pattani, dan Narathiwat, wilayah yang sebagian besar penduduknya beretnis Melayu.
Pemberontak menyerukan kemerdekaan untuk beberapa provinsi yang berbatasan dengan Malaysia. Dulunya wilayah itu merupakan bagian dari kesultanan yang disebut Patani namun dicaplok Thailand pada 1909 sebagai bagian dari perjanjian dengan Inggris.
Pemerintah Thailand baru-baru ini memulai kembali pembicaraan damai dengan kelompok pemberontak setelah jeda 2 tahun akibat pandemi Covid-19.