Lebih lanjut dia menegaskan sangat wajar jika kesepakatan ini ditentang banyak negara, termasuk China, karena dampaknya yang bisa mengganggu stabilitas kawasan. China lebih dulu menentang karena mencurigai aliansi ini dibuat untuk melawan semakin luas pengaruh negara itu di Indo-Pasifik.
"Perilaku membuat kesepakatan ganda oleh AS semakin jelas setelah munculnya pemerintahan baru, mengikis norma dan ketertiban internasional yang diterima secara universal dan secara serius mengancam perdamaian dan stabilitas dunia," kata pejabat itu.
Dia menegaskan, Korut akan melakukan pembalasan yang tepat jika hasil dari aliansi itu berdampak sekecil apa pun bagi keamanan negara.
Pengumuman aliansi itu berlangsung saat beberapa negara menunjukkan kemampuan persenjataan mereka. Dimulai dengan Korut yang menembakkan dua rudal balistik pada Rabu lalu ke Zona Ekonomi Eksklusif Jepang. Beberapa jam kemudian Korea Selatan (Korsel) menguji coba rudal balistik yang ditembakkan dari kapal selam di bawah permukaan air. Korsel menjadi negara ketujuh di dunia yang memiliki teknologi tersebut.
Sehari kemudian, AS, Inggris, dan Australia mengumumkan kemitraan keamanan Indo-Pasifik. Kemitraan itu memungkinkan Negeri Kangguru membangun kapal selam nuklir menggunakan teknologi dari AS dan Inggris. Kemitraan ini memicu kemarahan Prancis karena sebelumnya Australia sudah menjalin kerja sama pengadaan kapal selam dengan negara itu, namun dibatalkan secara tiba-tiba.