Setelah terbang untuk Garuda Indonesia, Syahreza menjajal peruntungan mendaftar di maskapai Swiss Air dan diterima. Saat itu usianya masih 23 tahun.
"Dari 50 pilot, keterima delapan. Kok bisa saya yang keterima, saya juga enggak tahu sampai sekarang tuh," ujarnya, kepada Vincent.
Di antara pengalaman paling berkesan bagi Syahreza saat bertugas di luar negeri adalah menerbangkan pesawat di daerah konflik Timur Tengah.
"Saya bekerja beberapa waktu lalu di daerah konflik, di tempat itu terjadi peperangan dan kita diminta membawa tentara untuk mencapai base. Suatu ketika kita terbang melalui jalur merah," ujarnya, tanpa menyebut untuk maskapai apa dia bekerja serta negara dimaksud.
Di daerah itu, lanjut dia, pilot harus menerbangkan pesawat di bawah 30.000 kaki untuk menghindari rudal yang biasa beroperasi di jalur atasnya, dari selatan ke utara.