Sehari setelah ledakan pager, giliran walkie talkie yang digunakan anggota kelompok Hizbullah meledak. Serangan kedua ini lebih mematikan dibandingkan yang pertama.
Dalam satu sekali ledakan walkie talkie, 25 orang meninggal dan 450 lainnya luka. Sementara serangan pager menewaskan 12 orang seketika. Dengan demikian kedua serangan itu telah menewaskan 37 orang dan melukai hampir 3.000 lainnya.
Sumber pejabat Lebanon lainnya mengatakan, baterai walkie-talkie dicampur dengan bahan yang sangat mudah meledak, PETN. Bahan itu tak terdeteksi karena sangat ringan, tak memengaruhi bobot keseluruhan.
Sumber keamanan lainya mengatakan, sangat sulit untuk mendeteksi bahan peledak tersebut menggunakan perangkat atau pemindai apa pun.
Hizbullah sebenarnya menerapkan standar operasional prosedur (SOP) untuk memeriksa peralatan yang akan mereka gunakan, termasuk pager, setelah dikirim ke Lebanon. SOP itu diterapkan sejak 2022. Namun saat pemeriksaan tak ada tanda-tanda mencurigakan dari perangkat-perangkat tersebut.