Sebelum membeli pesawat bekas itu, al-Sairafi bersaudara sudah lebih dulu dikenal sebagai pengusaha dan pedagang besi tua yang sukses. Mereka secara rutin melakukan perjalanan dari dan ke Israel untuk membeli potongan-potongan logam yang kemudian mereka jual dan lebur di Tepi Barat. Mereka juga memiliki bisnis pembuangan limbah yang terbilang berhasil.
Proyek kafe pesawat mereka sempat tertunda setelah pecahnya pemberontakan rakyat Palestina pada akhir 2000 (Intifadah II). Di tengah suasana perang kala itu, Israel mendirikan sebuah pos pemeriksaan militer Israel di dekat kafe pesawat mereka, sehingga mencegah para pelanggan terdekat Nablus mencapai lokasi itu.
“Mereka (tentara Israel) bahkan membangun tenda di bawah sayap pesawat itu,” kata Ata.
Selama hampir 20 tahun, pesawat dan lokasi itu ditinggalkan begitu saja. Setelah pemberontakan mereda pada pertengahan 2000-an, dua bersaudara itu melanjutkan bisnis pembuangan limbah mereka dan taman hiburan kecil di Nablus yang mereka buka pada 2007.
Setelah lebih dari satu dekade menabung, mereka memutuskan pada tahun lalu untuk mulai membangun kembali kafe pesawat. Proses dimulai dari renovasi burung besi itu. Namun, krisis pandemi virus corona menyebabkan pukulan yang keras bagi ekonomi Palestina. Proyek mereka kembali terhenti.