Para pemimpin kedua negara terlibat dalam perang kata-kata disusul dengan penerapan saksi terbaru AS untuk pejabat Iran, termasuk Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dan Menteri Luar Negeri Mohammad Javad Zarif.
Iran pun mengancam melepas komitmennya di bawah kesepakatan nuklir 2015, kecuali negara lain yang ikut meneken yakni Inggris, China, Prancis, Jerman, dan Rusia, tak ikut mematuhi sanksi AS, yakni tak mau membeli minyaknya.
Bulan lalu, Angkatan Udara AS mengerahkan beberapa unit pesawat pengebom B-52 Stratofortress berkemampuan nuklir ke Teluk.
Pada KTT G-20 di Osaka, Trump bertemu dengan Putra Mahkota Arab Saudi Pangeran Mohammed bin Salman. Setelah itu Gedung Putih menyatakan dalam posting-an Twitter bahwa Trump dan MBS membahas upaya untuk meningkatkan tekanan terhadap Iran.
"Kedua pemimpin berkomitmen untuk mempertahankan pasar minyak internasional yang kuat dalam menghadapi perilaku Iran," bunyi pernyataan.
Sebagai perlawanan, Iran mengindikasikan tidak akan memproduksi uranium melebihi batas 300 kilogram sebagaimana tercantum dalam perjanjian nuklir.
Ancaman itu membuat negara lain yang ada dalam kesepakatan seperti Inggris, Prancis, dan Jerman untuk membuat sistem barter yang memungkinkan adanya transaksi perdagangan dengan Iran.