Jumlah Kamp Tahanan Muslim Uighur Diduga Jauh Lebih Banyak dari yang Diperkirakan

Ahmad Islamy Jamil
Para lelaki Muslim dari etnik Uighur di kamp tahanan. (Fot: BBC)

SYDNEY, iNews.id – Hasil penelitian terbaru oleh The Australian Strategic Policy Institute (Institut Kebijakan Strategis Australia) menunjukkan bahwa jaringan pusat tahanan China di wilayah Xinjiang ternyata jauh lebih besar dari yang diperkirakan sebelumnya. Fasilitas tahanan itu juga mengalami perluasan dalam beberapa tahun terakhir.

Dalam hasil penelitian yang dipresentasikan pada Kamis (24/9/2020) tersebut, lembaga pemikir Australia itu mengidentifikasi lebih dari 380 fasilitas tahanan di wilayah Xinjiang. Para peneliti mencurigai ratusan fasilitas itu digunakan China untuk menahan lebih dari 1 juta orang Uighur dan penduduk lainnya yang kebanyakan beragama Islam dan berbahasa Turki.

Jumlah fasilitas tersebut sekitar 40 persen lebih besar dari perkiraan sebelumnya, dan terus bertambah meskipun China mengklaim banyak orang Uighur yang telah dibebaskan.

Dengan menggunakan citra satelit, informasi dari saksi mata, laporan media, dan dokumen-dokumen resmi tender konstruksi, Institut Kebijakan Strategis Australia menemukan setidaknya 61 lokasi kamp tahanan telah direnovasi dan diperluas antara Juli 2019 dan Juli 2020. Ada 14 fasilitas lagi sedang dibangun pada tahun ini. Sementara, sekitar 70 kamp tahanan telah dilepas pagar atau dinding pembatasnya, yang menandakan fungsinya telah berubah atau telah ditutup.

Anggota parlemen AS baru-baru ini memilih untuk melarang impor dari Xinjiang, mengutip dugaan penggunaan kerja paksa sistematis terhadap umat Islam dari etnik Uighur dan kelompok minoritas lainnya.

Sementara, Pemerintah China baru-baru ini menerbitkan buku putih yang membela kebijakan represifnya di Xinjiang. Lewat buku itu, Beijing berdalih masyarakat Uighur bukan ditahan, melainkan hanya diberi program pelatihan, skema kerja, dan pendidikan yang lebih baik untuk meningkatkan taraf hidup mereka.

Negara komunis itu juga beralasan, pusat-pusat pelatihan (baca: kamp tahanan) itu diperlukan untuk membasmi ekstremisme. Menyusul publikasi laporan terbaru, tabloid yang dikendalikan Partai Komunis China, Global Times melaporkan, dua kontributor Institut Kebijakan Strategis Australia yaitu Clive Hamilton dan Alex Joske kini dilarang memasuki China.

Editor : Ahmad Islamy Jamil
Artikel Terkait
Internasional
10 jam lalu

Trump: AS-China Capai Kesepakatan Perdagangan Fantastis!

Internasional
11 jam lalu

6 Poin Hasil Pertemuan Trump dengan Xi Jinping, dari Perdagangan hingga Nuklir Iran

Nasional
13 jam lalu

PM Albanese Telepon Presiden Prabowo, Ucapkan Terima Kasih Ekspor Pupuk ke Australia

Bisnis
14 jam lalu

Trump Boyong Miliarder ke China Temui Xi Jinping, Ada Orang Terkaya Dunia hingga Ikon AI

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal