Dalam laporan Weihutang disebutkan, rudal tersebut bisa menembak target jarak jauh yang bernilai tinggi, seperti pesawat peringatan dini serta pesawat pengisi bahan bakar.
Analisis lain, senjata itu merupakan rudal anti-radiasi pesaing dengan milik Amerika Serikat, AGM-88G.
Ordnance Industry Science Technology, majalah pertahanan yang berbasis di Xi'an, Provinsi Shaanxi, mengungkap, karena tangkapan video itu tidak berkualitas tinggi, penjelasan detail mengenai rudal tersebut tidak dapat dipastikan.
Namun Ordnance Industry Science Technology memperkirakan senjata bisa jadi versi baru dari CM-102, rudal anti-radiasi yang dibuat untuk diekspor oleh China dan mungkin menggunakan teknologi motor roket padat seperti digunakan pada rudal udara ke udara jarak jauh paling canggih saat ini, PL-15.
Teknologi baru menjadikan rudal anti-radiasi tersebut memiliki daya jelajah lebih jauh.
Sementara itu media AS, Thedrive, melaporkan, rudal itu kemungkinan besar anti-radiasi.
Karena pesawat peringatan dini biasanya beroperasi jauh dari zona panas pertempuran, mungkin 300 kilometer, rudal anti-radiasi baru harus memiliki jangkauan sangat jauh. China harus memiliki teknologi seperti itu untuk meningkatkan kemampuan udara.