NEW YORK, iNews.id - Kemenangan Zohran Mamdani sebagai Wali Kota New York bukan sekadar perubahan kepemimpinan di kota terbesar Amerika Serikat (AS). Lebih dari itu, kemenangan politisi muda Partai Demokrat tersebut menjadi simbol perlawanan baru bagi kelompok minoritas yang selama ini termarjinalkan oleh politik identitas dan retorika anti-imigran di Washington.
Pria 34 tahun itu mencatatsejarah sebagai wali kota Muslim pertama dalam sejarah New York. Dia berhasil menumbangkan kandidat independen Andrew Cuomo yang didukung langsung oleh Presiden Donald. Namun, keberhasilannya justru memantik gelombang serangan politik dari kubu konservatif yang menuduhnya sebagai ancaman bagi nilai-nilai Amerika.
Serangan Politik Bermuatan Islamofobia
Tak lama setelah kemenangan diumumkan, sejumlah politisi Partai Republik di Washington DC menyerukan agar kewarganegaraan Mamdani dicabut. Mereka bahkan menuduhnya memiliki hubungan dengan ideologi komunis dan aktivitas teroris, tuduhan yang tak disertai bukti.
Anggota DPR AS dari Partai Republik, Andy Ogles, secara terbuka menuduh Mamdani telah berbohong dalam proses naturalisasi.
“Jika Mamdani berbohong dalam dokumen kewarganegaraannya, dia tidak layak menjadi warga negara AS, apalagi wali kota New York,” ujarnya, seperti dikutip Al Jazeera, Selasa (11/11/2025).