Penjinak Bom Takut Jadi Sasaran
Situasi di lapangan semakin rumit bagi tim kemanusiaan.
Nicholas Orr, mantan penjinak ranjau militer Inggris yang bekerja untuk LSM Handicap International di Gaza, mengaku tidak bisa menjalankan tugasnya dengan aman karena pengawasan udara Israel masih berlangsung ketat.
“Jika mereka melihat seseorang menggali atau memindahkan benda mencurigakan, bisa saja dikira sedang mengumpulkan bahan peledak untuk senjata. Itu risiko besar bagi kami,” ujarnya.
Senjata yang belum meledak, mulai dari bom udara, granat, hingga peluru, masih tersebar di bawah puing-puing bangunan. Situasi ini membuat warga Gaza hidup dalam ketakutan baru, bukan karena serangan, tetapi karena bahaya tersembunyi di bawah kaki mereka sendiri.
“Risikonya sangat besar. Kami memperingatkan warga yang kembali ke rumah untuk berhati-hati dan memastikan lingkungan mereka aman,” ujar Anne-Claire Yaeesh, Direktur Handicap International untuk wilayah Palestina.
Dia menjelaskan, bom yang terkubur di antara reruntuhan sangat berisiko meledak sewaktu-waktu, terutama saat pembersihan dilakukan menggunakan alat berat.
“Kepadatan wilayah perkotaan di Gaza memperparah bahaya, karena ruang gerak untuk evakuasi sangat terbatas,” tambahnya.
Badan-badan kemanusiaan di bawah koordinasi Kantor PBB untuk Urusan Kemanusiaan (OCHA) kini memprioritaskan pembersihan jalur utama yang digunakan ribuan pengungsi untuk kembali ke rumah. Namun tanpa izin masuk bagi peralatan penjinak, proses itu berlangsung sangat lambat.