Blokade ini menyebabkan penumpukan besar-besaran bantuan di sisi Mesir, sementara di dalam Gaza, warga terpaksa bertahan dengan pasokan terbatas. Rumah sakit melaporkan kekurangan pasokan medis penting, termasuk bahan bakar untuk generator listrik, sehingga mengancam keselamatan pasien kritis.
Ratusan Ribu Keluarga Telantar di Jalanan
Selain menghambat bantuan logistik, Israel juga belum mengizinkan masuknya lebih dari 300.000 unit tenda dan rumah mobil yang seharusnya digunakan untuk menampung pengungsi.
Akibatnya, sekitar 288.000 keluarga Palestina kini hidup di jalanan dan area publik tanpa perlindungan dari cuaca ekstrem.
“Gencatan senjata seharusnya memberi ruang bagi warga untuk bernapas, bukan membuat mereka mati perlahan,” kata Thawabteh.
Perlintasan Rafah di Bawah Kendali Penuh Israel
Sejak Mei 2024, Israel mengambil kendali penuh atas perbatasan Rafah setelah menghancurkan bangunan dan infrastruktur di kawasan itu. Warga Palestina dilarang melintasi perbatasan, termasuk pasien gawat darurat yang seharusnya bisa dievakuasi ke luar negeri untuk mendapatkan perawatan medis.
Langkah tersebut memperparah kondisi ribuan pasien dan memperlambat proses pemulihan pasca-konflik. Organisasi kemanusiaan internasional menilai, penutupan Rafah melanggar prinsip dasar hukum internasional tentang perlindungan warga sipil di wilayah konflik.