TEL AVIV, iNews.id - Israel membantah akan membangun kembali permukiman Yahudi di Jalur Gaza, namun di saat yang sama justru mengumumkan pembentukan unit militer-sipil di wilayah tersebut. Langkah ini memicu sorotan karena dinilai bertentangan dengan rencana perdamaian yang diusulkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.
Meski gencatan senjata tahap kedua segera berlaku, Israel menegaskan tidak akan menarik seluruh pasukannya dari Gaza. Sikap tersebut berlawanan dengan 20 poin rencana damai Trump yang mengatur penarikan penuh militer Israel secara bertahap dari wilayah pesisir itu, sebuah kesepakatan yang sebelumnya juga ditandatangani Israel dan Hamas pada Oktober lalu.
Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, secara terbuka menyatakan militer Zionis tidak akan pernah meninggalkan Gaza sepenuhnya dengan alasan keamanan.
“Kami berada jauh di dalam Gaza dan kami tidak akan pernah meninggalkan seluruh Gaza. Tidak akan pernah ada hal seperti itu. Kami ada di sana untuk melindungi, untuk mencegah apa yang terjadi pada 7 Oktober 2023,” ujar Katz, seperti dikutip dari Reuters, Rabu (24/12/2025).
Selain mempertahankan pasukan, Katz mengungkapkan rencana pembentukan unit militer-sipil bernama Nahal di Gaza. Unit ini disebut akan berperan menggantikan kehadiran warga Israel di wilayah tersebut, pernyataan yang merujuk pada penarikan pemukiman Yahudi dari Gaza pada 2005.