TEHERAN, iNews.id - Iran menegaskan tak menutup Selat Hormuz sepenuhnya dari kapal-kapal tanker maupun dagang. Jalur perairan yang menjadi akses penting untuk pengiriman minyak dan gas global tersebut terganggu sejak serangan Amerika Serikat (AS)-Israel ke Iran pada 28 Februari lalu.
Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran Abbas Araghchi mengatakan, Selat Hormuz sebenarnya tetap terbuka. Pembatasan hanya berlaku bagi kapal-kapal tanker dan dagang asal AS, Israel, dan negara-negara sekutu mereka.
"Selat itu hanya ditutup bagi kapal tanker dan kapal milik musuh kita, untuk mereka yang menyerang kita dan sekutu mereka. Yang lain bebas untuk lewat," kata Araghchi kepada stasiun televisi MS Now, dikutip Minggu (15/3/2026).
Presiden AS Donald Trump mendesak China dan negara-negara lain untuk mengirim kapal perang ke Selat Hormuz. Dia juga berjanji bahwa militernya akan terus mengebom garis pantai Iran yang menghadap Selat Hormuz guna memastikan jalur perairan tersebut aman untuk dilalui.
Bukan hanya itu, Trump berjanji akan menenggelamkan kapal-kapal Iran sehingga tidak menjadi ancaman lagi.
"Semoga China, Prancis, Jepang, Korea Selatan, Inggris, dan negara-negara lain yang terdampak oleh pembatasan buatan ini, akan mengirimkan kapal ke wilayah tersebut sehingga Selat Hormuz tidak lagi menjadi ancaman bagi negara yang telah sepenuhnya kehilangan kekuasaannya," kata Trump, di Truth Social.