Menurut dia, dukungan Malaysia bersyarat pada penyelesaian menyeluruh yang menjamin pemulangan warga Palestina yang diusir secara paksa, serta perlindungan hak kenegaraan Palestina. Dia juga menyoroti kekerasan yang masih dilakukan pemukim ilegal Yahudi di Tepi Barat, yang dinilai bertentangan dengan semangat perdamaian sejati.
“Malaysia mendukung penghentian perang dan pembunuhan warga sipil, termasuk perempuan dan anak-anak. Tapi kita tidak akan mendukung perdamaian yang melupakan keadilan,” tuturnya.
Meski absen di KTT, Malaysia tetap menunjukkan komitmen kemanusiaan. Anwar mengaku telah berbicara dengan otoritas Mesir untuk membuka akses bantuan makanan dan medis ke Gaza melalui perbatasan Rafah. Kuala Lumpur juga siap mengirim tenaga medis dan spesialis jika diminta PBB.
Iran: Menolak Duduk Bersama Amerika
Sementara itu, Iran mengambil posisi yang lebih tegas. Meski awalnya diundang, Teheran memutuskan untuk tidak hadir di KTT dengan alasan tidak ingin duduk satu meja dengan Amerika Serikat dan negara-negara Eropa.
Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran Abbas Araghchi menegaskan, negaranya tidak akan menghadiri forum yang diinisiasi atau dihadiri pihak-pihak yang selama ini menekan dan menjatuhkan sanksi terhadap rakyat Iran.
“Iran mendukung setiap upaya yang menghentikan perang Hamas-Israel, tapi kami tidak akan duduk bersama pihak yang bertanggung jawab atas penderitaan rakyat kami,” kata Araghchi dalam pernyataannya.
Bagi Teheran, kehadiran AS di KTT dianggap kontradiktif dengan realitas di lapangan. Iran menilai, Washington tidak dapat menjadi mediator netral karena selama ini memberi dukungan militer dan politik penuh kepada Israel dalam konflik Gaza.