Pembicaraan kedua pemimpin juga mencakup implementasi perjanjian yang telah ditandatangani sebelumnya seraya menyerukan kerja sama lebih luas di bidang perdagangan, energi, transportasi, serta masalah di kawasan.
Media Iran melaporkan Al Zaidi juga bertemu kepala juru runding Iran untuk negosiasi dengan AS yang juga ketua parlemen, Mohammad Bagher Ghalibaf dan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi.
Lebih lanjut NYT melaoporkan, alih-alih berdamai dengan AS, para pejabat Iran mempersiapkan kemungkinan konflik lebih luas jika Trump terus melanjurkan ancamannya untuk menyerang infrastruktur penting, seperti fasilitas nuklir dan pembangkit listrik.
Serangan semacam itu hanya akan mendorong pembalasan lebih keras dan lebih luas di Timur Tengah, termasuk menargetkan Israel. Para pejabat Iran juga telah meminta kelompok proksinya di Yaman, Houthi, untuk menutup Selat Bab Al Mandab yang bisa melumpuhkan ekspor minyak negara Teluk.
Sementara itu AS melanjutkan serangan ke Iran pada hari ke-13 berturut-turut, Kamis (23/7/2026) malam hingga Jumat pagi waktu setempat. Serangan AS ke Iran dalam konflik terbaru yang berlangsung sejak akhir Juni telah menewaskan 53 orang dan 592 lain luka.