Setelah Perang Krim (1853-1856) dan kekalahan dalam Konflik Krimea, Rusia menghadapi situasi keuangan yang sulit.
Mereka juga khawatir bahwa Alaska dapat menjadi target ekspansi oleh negara-negara Eropa lainnya, seperti Inggris dan Prancis.
Dengan menjual Alaska kepada Amerika Serikat, Rusia berharap untuk mendapatkan sejumlah uang yang dapat membantu mengurangi beban keuangan dan mencegah negara-negara Eropa lainnya mendapatkan akses ke wilayah tersebut.
Pada saat itu, Alaska belum sepenuhnya dieksplorasi dan belum mengungkapkan potensi sumber daya alamnya.
Rusia menghadapi kesulitan dalam mengelola dan memanfaatkan Alaska secara efektif. Sumber daya yang terbatas dan kesulitan akses menjadikan Alaska sebagai beban bagi Rusia.