"(Pergeseran Palung Cotabato) mengangkat sebagian garis pantai (Provinsi) Sarangani dan Davao Occidental ke atas, memperlihatkan dasar laut yang sebelumnya terendam," bunyi pernyataan Phivolcs, dikutip Rabu (17/6/2026).
Fenomena yang dikenal sebagai "pengangkatan pantai" itu pertama kali dilaporkan warga setempat 2 hari setelah gempa terjadi. Dampaknya cukup signifikan, bahkan garis pantai di beberapa lokasi bertambah panjang hingga sekitar 200 meter.
Palung Cotabato berada sekitar 50 km dari pantai selatan Mindanao. Kawasan ini dikenal sebagai salah satu wilayah dengan aktivitas seismik tinggi di Filipina. Pada Januari lalu, ribuan gempa bumi kecil juga tercatat terjadi di area tersebut.
Departemen Lingkungan Filipina mengungkapkan terumbu karang yang terangkat ke permukaan kini terancam mati karena kehilangan habitat alaminya. Foto-foto yang dirilis lembaga itu menunjukkan hamparan luas terumbu karang yang menyembul dari laut disertai bangkai ikan dan organisme laut lainnya.
Warga awalnya melaporkan perubahan pada dasar laut karena khawatir terhadap bau menyengat yang muncul akibat pembusukan biota laut yang terpapar udara.
"Terumbu karang dan padang lamun yang terpapar ini mulai mati bersama organisme penghuninya seperti ikan karang, belut, kerang, dan cangkang," demikian pernyataan Departemen Lingkungan Filipina.