Dalam menghadapi potensi agresi Rusia, Ukraina tidak sendiri. Negara yang memisahkan diri dari Uni Soviet pada 1991 itu mendapat dukungan dari AS dan NATO. Bahkan AS telah menempatkan 3.000 tentara di Polandia, negara anggota NATO sekaligus tetangga terdekat Ukraina.
Konflik antara Rusia dan Ukraina sebenarnya sudah terjadi sejak Uni Soviet pecah pada 1991. Rusia sepertinya tidak rela Ukraina berdiri sendiri menjadi negara berdaulat. Kedekatan budaya dan sumber daya alam yang dimiliki Ukraina menjadi salah satu alasan Rusia masih ingin menguasai Ukraina.
Ukraina sendiri telah mengalami dua kali revolusi, yakni pada 2005 dan 2014. Rusia dituding berada di balik gejolak politik di Ukraina. Saat revolusi pada 2014, Presiden Ukraina Viktor Yanukovych dilengserkan. Kondisi kacau di Ukraina ini dimanfaatkan Presiden Rusia Vladimir Putin untuk mencaplok Kremia, wilayah otonomi Ukraina yang terletak di semenanjung Laut Hitam. Perang pun tak terhindari antara pasukan Rusia dan kelompok-kelompok separatis Kremia yang didukung Ukraina.
Melalui referendum, Krimea pun jatuh ke pelukan Rusia. Namun hingga kini agresi Rusia itu tidak diakui PBB. Sejak itu pula berbagai perundingan digelar untuk mengakhiri konflik Kremia.
Tahun lalu Rusia merasa kesal karena Ukraina mulai menjalin kerja sama dengan NATO. Ada indikasi negara ini juga ingin menjadi anggota pakta pertahanan atlantik tersebut. Inilah yang kemudian memicu kemarahan Putin hingga mengerahkan pasukan ke perbatasan Ukarina. Pengamat militer meyakini pengerahan kekuatan militer Rusia ke Ukraina ini merupakan yang terbesar sejak era Perang Dingin.