Bank investasi, Citi menilai tekanan terburuk terhadap strategi perdagangan komoditas berbasis kurva harga (curve-carry strategies) kemungkinan telah berlalu. Strategi tersebut sempat terpukul selama perang AS-Iran karena lonjakan harga minyak jangka pendek memberikan kerugian pada posisi yang menjual kontrak jangka dekat dan membeli kontrak jangka panjang.
Citi menyebut skenario utama saat ini adalah meredanya ketegangan secara signifikan. Bank tersebut memperkirakan harga minyak Brent akan turun ke kisaran 60 hingga 65 dolar AS per barel dalam enam hingga 12 bulan ke depan seiring normalisasi arus pengiriman melalui Selat Hormuz.
Meski demikian, risiko terhadap jalur pelayaran penting tersebut masih belum sepenuhnya hilang. Pasalnya, Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) pada Kamis memperingatkan bahwa kapal-kapal hanya diperbolehkan melintas dengan aman melalui rute yang telah ditentukan oleh Teheran.
IRGC juga menegaskan kapal yang melanggar instruksi pelayaran akan menghadapi tindakan dari pihak berwenang Iran.
Peringatan tersebut menunjukkan bahwa meskipun arus pelayaran mulai kembali normal, ketidakpastian di Selat Hormuz masih menjadi faktor yang dapat memengaruhi pasar energi global.