Dia lalu memberikan diri pergi ke lokasi yang ditentukan pada waktunya dan mengungkapkan rasa lega ketika mengetahui bahwa orang yang mennggunya dia kenal baik sebagai pegawai pemerintahan Hamas.
"Dia memberi saya 1.000 shekel (sekitar Rp4,9 juta)," kata pria 39 tahun itu, seraya menambahkan itu hanya sebagian dari gajinya totanya sebelum perang sebesar 2.900 shekel.
Bukan hanya Karim, para PNS lain, juga masih menerima gaji meski tertunda dan jumlahnya tak sebesar pada kondisi normal.
Metode pemberian gajinya pun mirip-mirip seperti dialami Karim.
Alaa (nama samaran), seorang guru sekolah negeri di Kota Gaza, terakhir kali menerima gaji pada Juni. Ibu lima anak itu menerima SMS yang memintanya pergi sebuan penampungan pengungsi di Gaza utara.
Ketika tiba, sekolah baru saja dibom dan orang suruhan Hamas yang bertugas membagikan gaji tidak berada di lokasi.