TEHERAN, iNews.id - Kesepakatan gencatan senjata Amerika Serikat (AS) dan Iran berada di ujung tanduk. Iran menuduh AS melanggar kesepakatan gencatan senjata 2 minggu, salah satunya dengan membiarkan serangan Israel terhadap Lebanon.
Pasukan Pertahanan Israel (IDF) menggempur Lebanon secara brutal pada Rabu (8/4/2026), menewaskan ratusan orang dalam waktu hanya beberapa jam.
Serangan Israel ke Lebanon, dengan dalih menghancurkan kelompok Hizbullah, menghantam beberapa area komersial dan perumahan di Ibu Kota Beirut. Parahnya, serangan itu dilakukan Israel tanpa peringatan sebelumnya. Akibatnya, 182 orang tewas serta lebih dari 700 lainnya luka, serangan paling mematikan dalam perang Israel-Hizbullah terbaru.
Sebagai respons, Iran mengancam akan membatalkan gencatan senjata dengan menyerang Iran kembali serta menutup Selat Hormuz sebagai respons atas serangan Israel di Lebanon.
Sementara itu Gedung Putih mendesak Iran membuka kembali Selat Hormuz seraya berupaya agar pembicaraan perdamaian yang akan digelar di Pakistan pekan ini tetap berjalan.
Wakil Presiden AS JD Vance menyebut kesepakatan selama 2 minggu ini masih sangat rapuh.
Menteri Luar Negeri Iran (Menlu) Abbas Araghchi menegaskan penghentian perang di Lebanon adalah bagian dari kesepakatan gencatan senjata dengan AS. Namun Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden AS Donald Trump mengatakan, gencatan senjata tersebut tidak mencakup Lebanon.
"Dunia melihat pembantaian di Lebanon. Bola ada di tangan AS dan dunia sedang mengawasi apakah mereka akan bertindak sesuai komitmennya," kata Araghchi, dalam posting-an di media sosial X.