Hubungan bilateral Ankara dan Riyadh sangat tegang pascapembunuhan jurnalis Saudi, Jamal Khashoggi, beberapa tahun silam.
Khashoggi dibunuh dan dimutilasi oleh regu pembunuh di Konsulat Jenderal Kerajaan Arab Saudi di Istanbul pada 2018. Pada saat itu, Erdogan menuduh tokoh di “tingkat tertinggi” dari Pemerintah Arab Saudi sebagai orang yang memberikan perintah pembunuhan wartawan itu. Akan tetapi, Ankara kemudian melunakkan suaranya terkait kasus itu.
Bulan ini, Turki menghentikan proses persidangan kasus pembunuhan Khashoggi di pengadilannya. Ankara selanjutnya akan memindahkan proses peradilan para tersangka ke Arab Saudi. Langkah Turki itu menuai kecaman dari sejumlah kelompok hak asasi manusia.
Berbicara kepada wartawan sebelum berangkat ke Jeddah, Erdogan mengatakan, kunjungannya kea Saudi pada Kamis kemarin adalah manifestasi dari keinginan bersama Turki dan Saudi. Tujuannya adalah untuk meningkatkan dan memperkuat hubungan politik, militer, serta budaya. Dia juga akan bertemu Putra Mahkota Arab Saudi, Pangeran Muhammad bin Salman (MBS).
Dia menambahkan, momentum ini akan saling menguntungkan bagi kedua negara untuk meningkatkan kerja sama di berbagai bidang termasuk kesehatan, energi, ketahanan pangan, industri pertahanan, dan keuangan.
“Dengan upaya bersama, saya percaya kita akan membawa ikatan kita bahkan melampaui di mana mereka berada di masa lalu,” katanya.
Ankara berharap kunjungan Erdogan itu bakal dapat sepenuhnya mengakhiri boikot tak resmi oleh Saudi terhadap impor produk-produk Turki—yang diberlakukan pada 2020 di tengah kebuntuan terkait isu Khashoggi. Boikot itu telah memangkas impor Turki ke kerajaan itu sebesar 98 persen.