Sang ayah, Adnan Al Aqraa, mengatakan tubuhnya putranya gemetar tak terkendali sebelum meninggal. Bayi tersebut meninggal di Rumah Sakit Al Aqsa.
Kantor Media Pemerintah Gaza mengungkapkan, kasus kematian terbaru akibat cuaca dingin merupakan dampak langsung dari kerusakan rumah dan infrastruktur, blokade Israel yang berkelanjutan, serta pengungsian paksa lebih dari 1,5 juta warga.
Mereka memperingatkan gelombang dingin yang berkelanjutan bisa meningkatkan jumlah korban jiwa lebih lanjut, terutama di kalangan anak-anak, lansia, serta orang-orang yang menderita penyakit kronis.
Para pejabat meteorologi Palestina menjelaskan, sistem tekanan rendah baru mulai memengaruhi Gaza pada Jumat pekan lalu, membawa hujan lebat, angin kencang, dan penurunan suhu yang drastis. Kecepatan angin mencapai 60 kilometer per jam di beberapa daerah. Badai tersebut merusak atau menerbangkan ribuan tenda pengungsi. Selain itu puluhan bangunan yang sudah lemah akibat pengeboman Israel terancam runtuh, menyebabkan korban jiwa lebih lanjut.