Trump menuduh China memperoleh 220 juta berkas pemilih AS seraya menyebutnya sebagai skandal data pemilihan terbesar dalam sejarah.
Dia mengaku telah mendapat data dari badan intelijen CIA dan NSA. Data tersebut kini telah dideklasifikasi sehingga tertbuka untuk umum.
Mengutip laporan CIA, Trump mengatakan pada pertengahan 2018, selama masa jabatan pertamanya, kebijakan Partai Komunis China adalah "memanfaatkan semua elemen dalam negeri dan asing" yang menentang dirinya. Tujuannya adalah mengurangi jumlah suara Pilpres 2020, membuatnya mengundurkan diri, atau mencegah terpilih kembali sebagai presiden.