Sementara, Biden (77) diperkirakan akan fokus menyoroti penanganan Trump terhadap pandemi Covid-19 yang telah menyebabkan lebih dari 222.000 orang tewas di Amerika Serikat dan menimbulkan jutaan pengangguran. Sejauh ini, jajak pendapat menunjukkan bahwa orang Amerika jauh lebih khawatir akan dampak pandemi daripada teori konspirasi Trump.
Biden memusatkan seluruh kampanyenya di sekitar citra dirinya sebagai pemimpin yang lebih bertanggung jawab dan berbasis sains.
“Ini adalah kesempatan terakhir yang penting bagi para kandidat untuk mengambil hati orang-orang yang belum memilih,” kata Direktur Eksekutif Sine Institute of Policy and Politics di American University, Amy Dacey, dikutip AFP, Jumat (23/10/2020).
“Ini mungkin salah satu audiens terbesar yang akan mereka jangkau sebelum pemilihan. Saya pikir tim Trump harus melihat ini sebagai suatu keharusan untuk menjangkau banyak orang dan meyakinkan mereka,” kata Dacey, yang juga mantan kepala eksekutif Komite Nasional Demokrat.
Sementara, Direktur Pelaksana buletin politik _Sabato's Crystal Ball_ di University of Virginia Center for Politics, Kyle Kondik, menyebut debat capres kali ini sebagai kesempatan terakhir untuk mengubah lintasan pemilih.
“Taruhannya tinggi untuk kedua kandidat. Biden ingin mempertahankan persaingan di tempatnya, dan dia tidak ingin memberikan ‘bahan bakar terakhir’ untuk kampanye Trump,” ucap Kondik.