Dalam pernyataannya, Lin juga melontarkan sindiran kepada AS. Dia mempertanyakan siapa sebenarnya pihak yang selama ini kerap mencampuri urusan dalam negeri negara lain dan melakukan pengawasan secara luas terhadap berbagai negara.
"Siapa yang sengaja mencampuri urusan dalam negeri negara lain, melakukan pengawasan tanpa pandang bulu terhadap pemerintah, bisnis, serta masyarakat umum di seluruh dunia dalam jangka waktu lama, serta membahayakan data warga asing dalam skala besar?" katanya.
Sebelumnya, Trump melontarkan tuduhan bahwa China memperoleh sekitar 220 juta berkas data pemilih AS. Dia bahkan menyebut temian intelijen itu sebagai skandal data pemilu terbesar dalam sejarah AS.
Trump mengeklaim informasi itu berasal dari laporan badan intelijen AS, yakni CIA dan NSA. Dokumen tersebut telah dideklasifikasi sehingga bisa diakses publik.