Mereka meretas situs web tertentu dengan menyisipkan pesan antiperang disertai gambar grafis kematian serta kehancuran dengan tujuan mengampanyekan anti-invasi Rusia.
"Rakyat kedua negara takut pada satu orang, Putin. Dia gila" kata Zakharov.
Target kampanye anti-invasi mereka difokuskan ke Rusia dengan menjangkau warga di sana, termasuk melalui panggilan telepon, email, dan pesan singkat.
Di antara materi yang dikirim adalah video serta foto tentara Rusia tewas. Mereka juga membuat situs web khusus yang memungkinkan para orangtua Rusia bisa mendapat informasi mengenai kondisi anak mereka yang bertempur di Ukraina.
"Situs web di mana para ibu Rusia bisa melihat (foto) tentara Rusia yang ditangkap, untuk menemukan putra mereka," kata Zakharov.
Sementara itu efektivitas serangan tentara siber ini sulit diukur. Situs web pemerintah Rusia berulang kali menjadi target serangan dan mati, namun kelamaan para ahli di Rusia bisa membuat sistem pencegahan dari serangan serupa.