Dia menjelaskan, senjata-senjata yang disebutkan di atas itu secara tegas dirancang untuk menyebabkan hilangnya nyawa manusia tanpa pandang bulu dan cedera mengerikan di wilayah yang luas, terlepas dari siapa atau apa yang menjadi sasaran.
“Setiap bom (tandan) terdiri atas 202 bom yang dikemas dengan pecahan peluru tajam yang tersebar dengan kecepatan supertinggi di area seluas 22 lapangan sepak bola merobek tubuh manusia. Senjata ini dilarang oleh Protokol Jenewa,” ujarnya.
Yang lebih membuat miris, kata dia, bomblet-bomblet tersebut berwarna kuning dan berbentuk seperti kaleng minuman ringan, sehingga menarik bagi anak-anak. “Bingkisan makanan berisi selai kacang, pop tart, beras dan kentang yang dijatuhkan di seluruh Afghanistan oleh AS juga berwarna kuning dan ukuran dan bentuk yang sama dengan amunisi (tandan) itu,” katanya.
Caldicott menuturkan, menurut perkiraan, ada lebih dari 5.000 bom curah yang tidak meledak saat ini masih berserakan di seluruh Afghanistan. Situasi tersebut juga bakal dialami oleh Ukraina di masa mendatang.
Amerika Serikat mengirimkan bom tandan ke Ukraina untuk digunakan melawan pasukan Rusia. Keputusan itu ditentang oleh sejumlah anggota parlemen AS dan aktivis hak asasi manusia.
Bom tandan sendiri telah dilarang oleh 108 negara.