Afghanistan bahkan disebut bisa menjadi “Arab Saudinya litium”. Hal itu tertuang dalam memo internal Departemen Pertahanan AS.
Potensi besar yang dimiliki Afghanistan tersebut dapat menarik kekuatan besar, seperti China. Akan tetapi, akses yang dimiliki masih kurang mumpuni dan terasa sulit. Sayangnya, potensi baik milik Afghanistan itu masih kurang dimanfaatkan masyarakatnya. Mereka tidak melihat hal tersebut sebagai sebuah keuntungan.
Ekonomi Afghanistan setelah dikuasai Taliban
Setelah Taliban merebut Kabul pada Minggu (15/8/2021), para donatur mulai mengumumkan akan mematikan keran keuangan mereka dari Afghanistan. AS mengumumkan akan membekukan miliaran dolar dalam cadangan darurat yang disimpan oleh bank sentral Afghanistan di Federal Reserve Bank of New York.
Begitu pun Jerman, yang mengumumkan bahwa bantuan terjadwal sebesar 300 juta dolar AS tidak akan dikirimkan ke negara itu.
Pengambilalihan Taliban kemungkinan akan menggagalkan rencana untuk memulai pasar utang Afghanistan dan memanfaatkan tabungan domestik. Selain itu, akan ada banyak ketidakpastian tentang stabilitas sektor keuangan.
Baca telusur Afghanistan selengkapnya di Okezone.com melalui link berikut https://www.okezone.com/tag/afghanistan