“Thailand akan bertindak sesuai kepentingan nasionalnya, bukan berdasarkan tekanan pihak luar,” ujarnya, menegaskan pemerintahannya tidak gentar meski berpotensi berhadapan dengan kebijakan sanksi AS.
Sikap berani tersebut menunjukkan bahwa Thailand kini siap mengambil risiko diplomatik dan ekonomi demi mempertahankan posisi strategisnya dalam sengketa perbatasan yang kembali membara.
Risiko Konflik Meningkat
Keputusan Thailand membatalkan deklarasi damai praktis menutup pintu bagi upaya rekonsiliasi jangka pendek. Para analis memperingatkan tanpa kerangka negosiasi resmi, risiko eskalasi militer kembali menguat.
Terlebih, Kamboja menyatakan tetap berkomitmen pada jalur diplomasi, namun kini berada dalam posisi sulit setelah Thailand memilih menarik diri dari kesepakatan yang sebelumnya menjadi dasar upaya meredakan ketegangan.
Absennya mediator internasional memperlemah peluang tercapainya solusi damai, membuat masa depan stabilitas regional berada dalam ketidakpastian.