The Wall Street Journal (WSJ) adalah media AS yang pertama kali melaporkan temuan dugaan kampanye menyesatkan Rusia tersebut pada Minggu (7/3/2021). Akan tetapi, seorang juru bicara Kremlin (Pemerintah Rusia) membantah klaim AS yang menuduh negaranya menyebarkan informasi palsu tentang vaksin itu kepada WSJ.
Kedutaan Besar Rusia di Washington DC belum merespons permintaan klarifikasi dari wartawan terkait isu tersebut.
Rusia menyetujui vaksin Sputnik V pada Agustus lalu, sebelum uji coba skala besar dimulai. Kala itu, Moskow mengklaim Rusia sebagai negara pertama yang mengesahkan penggunaan vaksin Covid-19 di dunia.
Hasil uji coba yang ditinjau oleh rekan sejawat berbulan-bulan kemudian membuktikan bahwa Vaksin Sputnik V memiliki kemanjuran hampir 92 persen dalam memerangi virus corona.
Sementara, Pfizer yang berkantor pusat di New York, dan BioNTech di Jerman, memproduksi vaksin corona pertama yang disahkan di Amerika Serikat. Penggunaan vaksin itu disetujui oleh regulator negeri Paman Sam pada Desember.
Adapun vaksin kedua yang dibuat Moderna—yang berkantor pusat di Massachusetts—disahkan pengunaannya oleh AS akhir bulan itu.