Departemen Kehakiman dan Boeing menolak berkomentar.
Dana tersebut adalah bagian dari penyelesaian Departemen Kehakiman AS dengan total nilai 2,5 miliar dolar AS (Rp36,1 triliun)yang dicapai pada Januari lalu dengan Boeing. Jaksa menuduh produsen pesawat itu melakukan penipuan atas sertifikasi 737 Max dalam kasus kecelakaan Lion Air pada 29 Oktober 2019, dan kecelakaan Ethiopian Airlines pada 10 Maret. 2019.
Penyelesaian dengan pembayaran kompensasi tersebut memungkinkan Boeing untuk menghindari tuntutan pidana. Akan tetapi, hal itu tidak berdampak pada proses pengadilan perdata oleh kerabat korban yang terus berlanjut.
Pada Juli 2019, Boeing menunjuk Feinberg dan Biros untuk mengawasi pembagian 50 juta dolar AS secara terpisah kepada keluarga korban tewas dalam kecelakaan Lion Air dan Ethiopian Airlines. Kali ini, pembagian dana kompensasi baru sebesar 500 juta dolar AS juga mengikuti formula serupa.
Boeing sebagian besar telah menyelesaikan tuntutan hukum Lion Air, meski masih menghadapi banyak tuntutan hukum di Pengadilan Federal Chicago oleh keluarga dari kecelakaan Ethiopian Airlines. Kerabat korban penumpang maskapai asal Afrika itu mempertanyakan mengapa pesawat 737 Max masih saja terus diterbangkan setelah bencana pertama menimpa Lion Air.
Pada Desember lalu, Kongres AS telah memerintahkan perombakan besar-besaran terhadap cara FAA (Otoritas Penerbagan AS) menyertifikasi pesawat baru. Parlemen AS itu juga mengarahkan tinjauan independen terhadap budaya keselamatan Boeing.
Pesawat 737 Max dilarang terbang selama 20 bulan setelah dua kecelakaan fatal. Akan tetapi, FAA kemudian mencabut larangan tersebut setelah Boeing melakukan peningkatan perangkat lunak pada pesawat dan perubahan pada sistem pelatihan penggunanya.