Sudan terlibat dalam pembicaraan dengan Amerika Serikat selama berbulan-bulan dan bersedia membayar 335 juta dolar AS untuk para korban serangan Kedutaan besar AS di Afrika Timur pada 1998. Angka itu jauh lebih tinggi sebagaimana diputuskan pengadilan AS.
Namun, proses untuk melepaskan uang penyelesaian dan memulihkan kekebalan kedaulatan Sudan terhenti di Kongres.
Perdana Menteri Sudan Abdalla Hamdok menyambut positif pencabutan status tersebut.
"Kami dibebaskan dari blokade global akibat perilaku rezim yang telah digulingkan," kata Hamdok.
"Pencapaian ini berkontribusi pada reformasi ekonomi, menarik investasi dan pengiriman uang melalui jalur resmi, menciptakan peluang kerja baru bagi kaum muda, dan banyak hal positif lainnya," katanya, menambahkan.