AS: China Target Masjid-Masjid Muslim Uighur untuk Hapus Keyakinan Minoritas

Nathania Riris Michico
Petugas keamanan Uighur berpatroli di dekat Masjid Id Kah di Kashgar di wilayah Xinjiang, China barat, 4 November 2017. (Foto: AP).

Menurut sebuah penyelidikan oleh Proyek HAM Uighur (UHRP), sebuah organisasi berbasis di Washington yang dibiayai oleh National Endowment for Democracy, antara 10.000 hingga 15.000 masjid dan situs-situs lain, yang jumlahnya mencapai 40 persen, dihancurkan di masing-masing kota, kabupaten, dan kota kecil di seluruh Xinjiang sejak akhir 2016.

Bahram Sintash, yang memimpin penyelidikan itu, mengatakan kepada VOA bahwa selain kesaksian dari warga setempat, gambar-gambar satelit juga mengukuhkan adanya "penghancuran sistematis" atas sedikitnya 140 tempat keagamaan warga Uighur.

Laporan UHRP itu mendapati, termasuk di antara tempat yang dihancurkan, adalah Masjid Keriya di perfektur Hotan, sebuah bangunan bersejarah besar sejak abad ke-13 dan tercatat sebagai situs budaya yang dilindungi.

"Meskipun China menghancurkan banyak masjid di Xinjiang, beberapa masjid tak disentuh di kota-kota besar termasuk Masjid Korla Jama. Saya mendapati, masjid itu adalah salah satu tujuan wisata "terpilih" di Kota Korla. Maka itu, pemerintah mempertahankan Masjid Korla Jama, bukan karena komunitas Uighur setempat dan keperluan ibadah mereka, tapi dipilih sebagai lokasi wisata yang seolah-olah memperlihatkan pemerintah melindungi Islam di kota itu serta membohongi masyarakat internasional dan reporter," papar Sintash.

VOA belum bisa mengukuhkan secara indenpenden laporan UHRP itu.

PBB dan kelompok-kelompok pengawas HAM di masa lalu selalu menyalahkan para pejabat China karena mencegah badan-badan independen memiliki akses ke wilayah itu untuk menyelidiki dugaan pelanggaran HAM itu.

Inggris awal pekan ini mendesak China memberi para pengamat PBB akses segera dan tak terbatas ke wilayah itu, menyusul bocornya dokumen-dokumen rahasia pemerintah China yang menurut kelompok-kelompok HAM mengungkap bukti nyata bahwa mereka menggunakan kamp-kamp penahanan sebagai pusat pencucian otak.

Editor : Nathania Riris Michico
Artikel Terkait
Internasional
6 jam lalu

Jimmy Lai, Taipan Media dan Aktivis Prodemokrasi Divonis 20 Tahun Penjara di Hong Kong

Internasional
4 hari lalu

Perjanjian Nuklir AS-Rusia Berakhir, China Ogah Diseret-seret

Nasional
4 hari lalu

Purbaya Sidak Perusahaan Baja China: Saya Buktikan Kita Tidak Bisa Disogok!

Internasional
6 hari lalu

Perusahaan China Tawarkan Wisata Luar Angkasa, Tiket Rp7,2 Miliar per Orang

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal