Komando Pusat AS (Centcom) menyatakan, operasi militer selama 2 hari menargetkan lebih dari 170 lokasi, termasuk sistem pertahanan udara, aset pengawasan pantai, infrastruktur rudal dan drone, kemampuan angkatan laut, serta fasilitas lain milik Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Centcom berdalin serangan tersebut bertujuan untuk melemahkan kemampuan militer Iran yang dianggap mengganggu pelayaran internasional di Selat Hormuz.
Iran membalas dua serangan AS tersebut dengan meluncurkan drone dan rudal ke berbagai fasilitas militer di Bahrain dan Kuwait.
AS dan Iran meneken Nota Kesepahaman (MoU) Islamabad pada 17 Juni menandai berakhirnya perang yang pecah sejak 28 Februari. Namun, pada Rabu (8/7/2026), Presiden AS Donald Trump menyatakan MoU tersebut telah berakhir, mengakhiri gencatan senjata selama 60 hari.