“Seharusnya saya tak memutuskan, apa yang harus saya lakukan dengan uang keluarga saya, di mana saya tidak mengusahakannya. Mengelola warisan membutuhkan banyak waktu. Itu bukan proyek hidup saya," kata perempuan muda itu kepada VICE.
Dia sebenarnya sudah tahu soal uang warisan tersebut sejak 2 tahun lalu. Sejak itu dia terus memikirkan cara untuk menghabiskannya.
Menyumbangkannya untuk amal merupakan pilihan termudah, tapi Marlene dibayangi kenyataan bahwa dirinya tak punya andil atas uang sebesar itu.
"Ini bukan soal kemauan, tapi keadilan. Saya tidak melakukan apa pun untuk mendapatkan warisan ini. Ini murni keberuntungan,” ujanya.
Marlene juga mengkritik banyak orang superkaya di dunia yang hanya mnyumbangkan sebagian kecil dari kekayaan mereka. Cara ini mereka gunakan untuk menghindari pajak semaksimal mungkin.
Menurut mahasiswi Universitas Wina yang juga anggota Millionaires for Humanity itu, seharusnya tidak ada orang yang menguasai uang dalam jumlah luar biasa sehingga membuat menjadi tidak adil. Dia menganggap pemerataan kekayaan yang lebih adil dan pajak lebih tinggi bagi orang superkaya penting untuk menyejahterakan masyarakat.
Sementara itu terkait apa yang akan dilakukannya dengan uang sisa, Marlene mengaku belum merencanakan apa pun.
“Saya belum tahu itu. Tapi saya ingin bekerja keras, seperti dilakukan orang lain," tuturnya.