Dalam pertemuan tersebut, para pejabat Pentagon menantang produsen mobil, termasuk General Motors dan Ford, mengalihkan kapasitas pabrik untuk memproduksi perangkat keras taktis, rudal, serta teknologi anti-drone, guna mengisi peran yang selama ini dimainkan kontraktor pertahanan konvensional.
Mereka juga meminta para CEO untuk mengidentifikasi hambatan dalam menjalankan tugas pertahanan, mulai dari persyaratan kontrak hingga proses penawaran.
Disebutkan pula, para pejabat Pentagon menggambarkan perluasan produksi senjata dalam negeri sebagai keharusan dan kebutuhan keamanan nasional.
Pembicaraan ini berlangsung di tengah laporan bahwa persediaan militer AS semakin menipis karena perang di Ukraina dan Iran.
Pentagon meminta Gedung Putih mengajukan anggaran tambahan 200 miliar dolar AS lebih ke Kongres untuk keperlaun perang melawan Iran. Anggaran tersebut untuk meningkatkan produksi senjata.