Pada 16 Juni 2025, Iran membalas dengan meluncurkan lebih dari 270 rudal dan pesawat nirawak ke wilayah Israel, termasuk kota-kota utama seperti Tel Aviv, Haifa, dan Bat Yam. Puluhan rudal berhasil menembus pertahanan udara Israel, menyebabkan kerusakan infrastruktur dan korban jiwa.
Serangan rudal Iran telah menewaskan sedikitnya 16 warga Israel dan melukai ratusan lainnya. Kota Haifa, yang merupakan pusat kilang minyak utama Israel, terbakar hebat akibat serangan rudal Iran, menimbulkan kerusakan besar dan meningkatkan ketegangan di wilayah tersebut.
Serangan Israel menewaskan sejumlah tokoh penting Iran, termasuk Mayor Jenderal Hossein Salami, Panglima Garda Revolusi Islam (IRGC), serta ilmuwan nuklir terkemuka seperti Fereydoon Abbasi dan Mohammad Mehdi Tehranchi. Kehilangan tokoh-tokoh ini menandai serangan yang sangat terfokus dan strategis.
Sebagai langkah antisipasi, Israel menutup bandara internasional dan wilayah udaranya untuk hari ketiga berturut-turut pada pertengahan Juni 2025. Penutupan ini mencerminkan tingkat ancaman yang tinggi dan upaya Israel untuk melindungi warga serta infrastruktur vitalnya.
Konflik ini turut memicu lonjakan harga minyak mentah dunia, khususnya jenis Brent, akibat kekhawatiran gangguan pasokan energi dari Timur Tengah. Analis memperingatkan bahwa jika konflik berkepanjangan, stabilitas ekonomi global dapat terganggu, menambah ketidakpastian di pasar keuangan dan inflasi global.