Kepala kantor HAM PBB Volker Turk menegaskan, hasil pemantauan pihaknya menunjukkan, tingkat pembunuhan dan luka warga sipil yang belum pernah terjadi sebelumnya ini merupakan konsekuensi langsung dari kegagalan Israel dalam mematuhi prinsip-prinsip dasar hukum humaniter internasional.
"Tragisnya, pola pelanggaran yang terdokumentasi ini terus berlanjut, lebih dari setahun setelah dimulainya perang," ujarnya.
Pihaknya juga mencatat, sekitar 80 persen dari total korban meninggal yang terverifikasi berlangsung dalam serangan terhadap bangunan tempat tinggal.
Korban serangan terhadap bangunan tempat tinggal adalah anak-anak berusia antara 5 hingga 9 tahun dengan korban termuda seorang bocah laki-laki berusia 1 hari dan yang tertua seorang perempuan 97 tahun.
Laporan juga mengungkap, sebagian besar kasus kematian yang terverifikasi di bangunan tempat tinggal bisa dijelaskan oleh metodologi verifikasi standar kantor HAM, yakni membutuhkan setidaknya tiga sumber independen.
Otoritas Gaza sejak awal perang menyatakan, perempuan dan anak-anak menjadi korban terbanyak. Namun karena kurangnya akses untuk mendapat verifikasi penuh dari PBB, laporan otoritas setempat menjadi sangat kontroversial. Namun dengan laporan dari kantor HAM PBB ini semua menjadi lebih terang benderang.